Lautan adalah Awal
Semuanya berawal dari sebuah tetesan.
Saking derasnya menetes hingga membentuk sungai.
Kamu tau kan? Deras itu hanya rasa penasaran.
Jika sudah tidak, maka akan reda sendiri.
Sungai tersebut amat dangkal, dan sayang sekali, banyak batunya.
Kelihatan cantik memang, alirannya meliuk-liuk mencari hilir.
Namun di tahap sungai itu, saya selalu ingin menyerah.
Lelah sekali akan air yg gemericik membentur bebatuan.
Tidak sedikit perahu yang kandas melewati sungai.
Perahu saya pun sudah terombang-ambing, bahkan terbalik!
Tapi entah bagaimana, saya bisa melewatinya, walaupun lebam disana-sini.
Hebat juga ya saya!
Aw! Masih sakit!
Saya dahulu bertahun-tahun adalah seorang mualim, sempai akhirnya saya dan sang nahkoda sepakat untuk berjalan masing-masing.
Oleh karena itu, saya lebih terbiasa berada di laut.
Berbeda dengan sungai, permukaan laut lebih tenang.
Walaupun di ujung sana bisa aja ada badai.
Atau gumpalan awan yang menyembunyikan petir yang menyambar-nyambar.
Tapi saya sudah paham betul cara menghindarinya.
Jadi ketika saya harus berada di sungai lagi, saya menjadi kikuk.
Saya pikir saya muak dengan laut, ternyata rindu pula.
Tapi sekarang, setelah hampir 2 tahun bergelut di sungai, saya rasa saya sudah dapat melihat laut lagi di ujung hilir.
Sejujurnya saya tidak pernah berpikir akan sampai di laut dengan perahu yang saya naiki sekarang.
Setibanya di laut, saya akui saya tidak bertingkah selayaknya awak yang sudah berpengalaman.
Sepertinya pengalaman saya di kapal sebelumnya tidak membekas apa-apa.
Saya hanya awak yang egois.
Saya biarkan sang nahkoda berusaha sendirian, karena saya pikir dia harus belajar banyak, toh dia yg mengajak saya berlayar.
Saya sudah cukup belajar dulu, jadi boleh kan saya santai-santai sebentar?
Tapi saya salah, bahkan nahkoda sehandal apapun akan kesulitan mengurus kapalnya sendirian.
Akhirnya saya kembali turun tangan, dan memberi satu-dua petuah hasil pengalaman saya terdahulu.
Perlahan saya sadar, ketika saya menoleh ke belakang, melihat apa yang sudah saya lewati.
Saya berada di laut yang sama, dimana saya dulu berusaha melarikan diri.
Semuanya nampak familiar, hanya dengan nahkoda yang berbeda.
Saya sadar di setiap perjalanan, pada akhirnya sungai akan mengarah ke laut, perahu pun akan menjadi kapal.
Dan laut yang luas, selalu memiliki badai dan ombak yang besar.
Yang perlu saya lakukan adalah menghadapinya bersama-sama dengan lapang dada.
Jadi kepada kamu yang hendak berlayar, saya ucapkan selamat berjuang.
Tidak masalah terjatuh dan tercebur beberapa kali, semuanya bisa diambil pelajaran.
Lautan hanyalah sebuah awal, dan perjalanan sebenarnya terjadi di kapalmu itu sendiri.
Di laut nanti, jika berpapasan jangan sungkan lambaikan tangan.
Sampai jumpa di samudra, semoga tidak tenggelam!
Saking derasnya menetes hingga membentuk sungai.
Kamu tau kan? Deras itu hanya rasa penasaran.
Jika sudah tidak, maka akan reda sendiri.
Sungai tersebut amat dangkal, dan sayang sekali, banyak batunya.
Kelihatan cantik memang, alirannya meliuk-liuk mencari hilir.
Namun di tahap sungai itu, saya selalu ingin menyerah.
Lelah sekali akan air yg gemericik membentur bebatuan.
Tidak sedikit perahu yang kandas melewati sungai.
Perahu saya pun sudah terombang-ambing, bahkan terbalik!
Tapi entah bagaimana, saya bisa melewatinya, walaupun lebam disana-sini.
Hebat juga ya saya!
Aw! Masih sakit!
Saya dahulu bertahun-tahun adalah seorang mualim, sempai akhirnya saya dan sang nahkoda sepakat untuk berjalan masing-masing.
Oleh karena itu, saya lebih terbiasa berada di laut.
Berbeda dengan sungai, permukaan laut lebih tenang.
Walaupun di ujung sana bisa aja ada badai.
Atau gumpalan awan yang menyembunyikan petir yang menyambar-nyambar.
Tapi saya sudah paham betul cara menghindarinya.
Jadi ketika saya harus berada di sungai lagi, saya menjadi kikuk.
Saya pikir saya muak dengan laut, ternyata rindu pula.
Tapi sekarang, setelah hampir 2 tahun bergelut di sungai, saya rasa saya sudah dapat melihat laut lagi di ujung hilir.
Sejujurnya saya tidak pernah berpikir akan sampai di laut dengan perahu yang saya naiki sekarang.
Setibanya di laut, saya akui saya tidak bertingkah selayaknya awak yang sudah berpengalaman.
Sepertinya pengalaman saya di kapal sebelumnya tidak membekas apa-apa.
Saya hanya awak yang egois.
Saya biarkan sang nahkoda berusaha sendirian, karena saya pikir dia harus belajar banyak, toh dia yg mengajak saya berlayar.
Saya sudah cukup belajar dulu, jadi boleh kan saya santai-santai sebentar?
Tapi saya salah, bahkan nahkoda sehandal apapun akan kesulitan mengurus kapalnya sendirian.
Akhirnya saya kembali turun tangan, dan memberi satu-dua petuah hasil pengalaman saya terdahulu.
Perlahan saya sadar, ketika saya menoleh ke belakang, melihat apa yang sudah saya lewati.
Saya berada di laut yang sama, dimana saya dulu berusaha melarikan diri.
Semuanya nampak familiar, hanya dengan nahkoda yang berbeda.
Saya sadar di setiap perjalanan, pada akhirnya sungai akan mengarah ke laut, perahu pun akan menjadi kapal.
Dan laut yang luas, selalu memiliki badai dan ombak yang besar.
Yang perlu saya lakukan adalah menghadapinya bersama-sama dengan lapang dada.
Jadi kepada kamu yang hendak berlayar, saya ucapkan selamat berjuang.
Tidak masalah terjatuh dan tercebur beberapa kali, semuanya bisa diambil pelajaran.
Lautan hanyalah sebuah awal, dan perjalanan sebenarnya terjadi di kapalmu itu sendiri.
Di laut nanti, jika berpapasan jangan sungkan lambaikan tangan.
Sampai jumpa di samudra, semoga tidak tenggelam!
Comments
Post a Comment
Write after you read>>