Fanfic

title:Recover
author: Omma
rating: PG13-yaoi
cast: Hankyung Heechul Super Junior, Hongki FT Island
Disclaimer : I don’t own Super Junior or FT Island members. I make no money from this. It just for fun, ^^ . Please don’t sue me.


“Kau masih bersamanya?”
“Siapa?” tanyaku yang masih sibuk membereskan meja sebelum pulang
“Kim Hee Chul” jawabnya
“Tentu saja, aku akan selalu bersamanya” ujarku seraya tersenyum mengingat si manja itu
“Tinggalkan saja dia. Dia itu gila”
Aku menggebrak meja ketika mendengar kalimat itu.
Aku menatapnya tajam. Lalu aku mengacungkan jariku tepat di depan matanya. “Kau tidak tahu apa-apa soal Heechul!” tegasku. Aku langsung berbalik dan meninggalkannya dengan dongkol.

Kenapa banyak orang hanya bisa beranggapan negatif tentang Heechul? Aku mengenal Heechul dengan baik, malah sangat baik. Dia tidak gila atau mempunyai kelainan jiwa seperti anggapan orang lain. Dia hanya sedang sakit dan akulah orang yang akan menyembuhkannya. Aku tak akan meninggalkannya.

“Aku pulang, Heechul” kataku sesampainya di apartemen kami. Tak ada jawaban sama sekali. Aku menaruh tasku di sofa dan pergi ke ruang tidur. Kosong. Aku pun memeriksa dapur, toilet, balkon bahkan hingga di dalam lemari pakaian gantung, tapi hasilnya tetap nihil. Dimana Heechul?
“Chulie?” panggilku “Hei, kau tahu aku bawa apa?”
Tetap tak ada jawaban. Aku membuka tasku dan mengeluarkan dua buah jeruk dari dalamnya, buah kesukaannya.
“Aku bawa jeruk, manis sekali. Kau tak mau mencobanya? Atau biarkan aku menghabiskannya sendirian?” pancingku.
Sunyi.

Mungkinkah dia pergi ke luar? Aku buru-buru membuka pintu kamar apartemen dan melayangkan pandangan ke penjuru lorong. Padahal aku sudah bilang berkali-kali padanya agar tidak keluar apartemen selama aku pergi.
“Aish, kemana dia?” gumamku khawatir.
Duk!
Aku menoleh ke dalam apartemen, mencari sumber suara. Aku menghambur ke dalam ruang tidur. “Heechul?” panggilku
“Kyung~”
Aku menatap ke arah bawah, sepertinya asalnya dari kolong tempat tidur. Aku membungkuk dan mengintip ke bawah kolong. Sepasang mata menatapku “Kyung, mana jerukku?”
“Ya! Kenapa kau tidur di bawah kolong tempat tidur?” tanyaku
“Aku takut” jawabnya pelan
“Babbo!”omelku sembari menarik tangan Heechul agar keluar dari sana. “Kalau disana terus, nanti malah diikuti roh halus dari dunia lain”
“Ah bohong!”Heechul menghindar dan membelakangiku. Aku tak boleh kehabisan akal, aku menarik kakinya dengan kuat.
“Jangan! Aah sakit, Kyung” rengek Heechul.
“Keluar dari tempat itu! Disana kotor dan bau! Kenapa sih tiduran disana?”
“Aku bersembunyi, ada orang yang ingin mencelakaiku!”
“Siapa?” tanyaku “Tak ada yang akan mencelakaimu, Chul. Hanya ada aku dan kau, kita aman disini”
“Bisikan-bisikan itu terus menghampiriku, makanya aku bersembunyi disini. Aku menunggumu pulang, Hannie” ujar Heechul. Aku terdiam mendengarnya. Heechul berbalik menghadapku dan tersenyum “Kau tak akan pergi lagi kan?” tanyanya. Aku hanya tersenyum tipis.
“Keluarlah dari situ,” kataku “aku akan melindungimu”
Heechul keluar dari kolong tempat tidur perlahan, dia memeriksa sekeliling lalu menarik nafas lega. “Syukurlah mereka sudah pergi” ujarnya
“Mereka? Maksudmu bisikan-bisikan itu lagi?” tanyaku. Heechul mengangguk pelan. Aku mengelus rambut Heechul perlahan. Bisakah ia sembuh?
Sekali lagi kukatakan, dia tidak gila. Ia hanya mempunyai penyakit yang lumayan serius. Skizofrenia. Kau tau apa itu? Itu adalah suatu gangguan psikosis fungsional berupa gangguan mental berulang yang ditandai dengan gejala-gejala psikotik yang khas dan oleh kemunduran fungsi sosial, fungsi kerja, dan perawatan diri. Orang yang menderita penyakit ini memiliki perilaku atau tampilan diri aneh dan ganjil, efek sempit, percaya hal-hal aneh, pikiran magis yang berpengaruh pada perilakunya, persepsi pancaindra yang tidak biasa, pikiran obsesif tak terkendali, pikiran yang samar-samar, penuh kiasan, sangat rinci dan ruwet atau stereotipik yang termanifestasi dalam pembicaraan yang aneh dan inkoheren.

Aku bukan dokter, namun kata dokter aku dapat menyembuhkannya. Heechul sering berhalusinasi mengenai bisikan-bisikan yang mengajaknya berbicara. Tugasku adalah mengalihkannya dari bisikan-bisikan itu. Ya, hanya itu. Awalnya kupikir bukan tugas yang sulit, ternyata aku tak bisa meremehkan tugasku ini.

“Ayo kita makan jeruk! Kau membawakannya untukku kan?” ucap Heechul sambil menarik tanganku menuju ruang tengah
“Iya, tentu saja untukmu” jawabku
“Hankyung memang paling baik” kata Heechul seraya menepuk-nepuk pundakku. “Kau mau?”
Aku menggeleng sambil tersenyum. Senang sekali bila bisa melihat Heechul seperti ini terus, ia terlihat sangat normal tanpa penyakit apapun. Sejenak ia melupakan tentang halusinasinya itu.

Heechul mengupas jeruknya dengan cepat dan aku hanya memperhatikannya. Ia memakannya tanpa ragu. Hap..hap, langsung habis begitu saja sebelum lima hitungan. Jeruk berikutnya kembali ia kupas, dengan semangat dan tanpa pikir panjang, setengah jeruk itu langsung dimasukkan ke dalam mulutnya. Kemudian Heechul tersedak, aku menertawainya lalu ia ikut menertawai dirinya sendiri.
“Pelan-pelan,” ujarku sambil menepuk punggungnya
“Aku tidak suka jeruk” katanya
“Mustahil. Kau menghabiskannya kurang dari satu menit dan kau masih berkata kau tidak menyukainya, keterlaluan”
“Aku tidak pernah suka jeruk kecuali kau yang memberikannya padaku”
Aku tertawa kecil. “Oh ya?” tanyaku
“Karena aku percaya padamu” kata Heechul. Aku langsung memeluk Heechul erat-erat, lalu kami tertawa bersama.

Mianhae, Chul. Karena hutang perusahaanku yang sangat banyak, aku terpaksa menjual aset-aset penting perusahaan,sehingga kini aku seperti memulainya kembali lagi dari nol. Aku harus meninggalkanmu dari pagi hingga malam. Aku tak punya pilihan, kalau aku berhenti bekerja, kita bisa makan apa?

“Oh ya! Kudengar adikmu Hongki sudah pulang dari Jepang ya?” tanyaku
“Jangan bicarakan dia!” katanya
“Kenapa? Kupikir kalian akrab?”
“Tidak! Dia buruk! Jangan bicarakan Hongki lagi” ujar Heechul tak suka
“Baiklah, kita lupakan saja dia. Sekarang kau mau makan apa?”

Aneh. Padahal selama ini, Heechul dan Hongki sangat akrab, selama di Jepang pun Hongki sering menelpon Heechul. Mereka sering tertawa keras-keras di telpon. Apa mereka sedang ada masalah?

Setelah membuatkan Heechul makanan, kami pun makan malam bersama. Saat Heechul menonton televisi, aku pun mandi dan segera menelpon Hongki.
“Hongki, kau sudah di Korea?” tanyaku.
“Ne, aku sampai kemarin malam. Ada apa, hyung?”
“Heechul marah padamu ya?” tanyaku lagi.
“Mwo? Padahal baru dua hari yang lalu kutelpon dia dan kurasa masih baik-baik saja. Dia menyuruhku cepat-cepat pulang dan mengunjunginya. Kenapa dia marah sekarang?” ujar Hongki bingung.
“Mungkin dia sedang kambuh saja” kataku pelan.
“Penyakitnya itu ya? Dia suka marah dan menangis tiba-tiba, lalu berteriak-teriak sendiri. Aku benar-benar berharap dia bisa sembuh” ucap Hongki.
“Datanglah ke apartemen kami besok, kau bisa? Temani hyungmu selama aku bekerja” kataku.
“Baiklah, sampai ketemu besok”
Kututup telponku lalu melihat jam. Sudah cukup larut. Kulihat Heechul masih menonton televisi, aku menghampirinya.
“Ayo kita tidur” ajakku seraya memeluknya dari belakang
Heechul mengucek matanya dan membalas pelukanku. Ia terlihat sudah mengantuk, aku merangkul Heechul dan menuntunnya ke kamar tidur.

“Besok kita pergi ke taman ria yuk” ajak Heechul
“Hah? Kenapa tiba-tiba berbicara seperti itu?” tanyaku
“Aku bosan diam di rumah terus”
“Kau seperti anak kecil saja, lagipula besok kan aku pergi kerja” kataku seraya naik ke atas kasur. Heechul merengut, ia juga naik ke atas kasur.
“Bolos kerja saja” ujar Heechul
“Mana bisa? Kau mau aku dipecat? Kalau aku dipecat, kita akan jadi gelandangan dan meminta-minta di pinggir jalan”
“Biar aku yang bekerja!” kata Heechul
“Memangnya mau kerja dimana?”
“Night club”
Aku langsung menjitak kepalanya “Tidak boleh bekerja di situ!” ujarku
“Kenapa? Dapat uang banyak lho!”
“Tidak boleh! Kau itu milikku! Jangan menjual diri”
“Babbo! Siapa yang mau jual diri? Kau pikir aku serendah apa? Aku kan bisa jadi pelayan atau bartender. Makanya jangan berpikiran kotor dulu!” omel Heechul
“Tetap saja, pria cantik sepertimu mana bisa diabaikan begitu saja oleh mereka. Kalau kau melawan, pasti diserang ramai-ramai” kataku. Aku mematikan lampu kamar “Tidurlah,” ujarku pada Heechul.
“Kapan kita bisa ke taman ria?” tanya Heechul pelan
“Suatu saat nanti, kalau aku sudah punya banyak uang” jawabku
“Janji ya?”
Aku terdiam sebentar, Heechul menatapku sambil tersenyum. Aku menghela nafas “Aku janji” kataku. Senyum Heechul melebar dan ia memelukku.
“Aku akan menunggu Hankyung higga punya uang yang banyak, lalu kita akan pergi berdua ke sana” kata Heechul “Gomawo, Hannie”
Aku mengelus rambutnya, lalu kembali menghela nafas. Aku melirik Heechul, matanya telah terpejam. Aku menyelimutinya pelan-pelan lalu mengelus pipinya.
Sweet dreams, chagiya.

to be continued

[sebenernya fanfic ini udah selesai gue buat
tapi sengaja gue post sampe sini dulu biar tau pendapat pembaca]

Comments