Short Story


I gonna make a short story
my own story actually
but I use formal language
if you don't want to read, just leave
give comments please ^^



Lil Thin' Means Sumthin'
(absurd title, geez)

"Siapa namanya?"
"Siapa?" balasku
"Cowok itu?"
"Fa.."
"Fa?"
"Iya, Fa saja" kataku ringan

Bukan Fa sebenarnya, namanya Fahry, tapi aku tak mau terlalu spesifik. Setidaknya itu akan mempersulitnya jika suatu hari ia mencarinya. Jadi, aku menyebutnya Fa. Terdengar ganjil, memang. Tapi mungkin lebih baik begitu.Satu suku kata yang terpenggal, sekejap sebelum aku melantunkan nama lengkapnya, aku memerintahkan lidahku untuk kelu seketika. Ya, panggil saja Fa. Hanya aku yang boleh memanggil nama lengkapnya. Kuralat, aku dan ibunya. Hmm, kuralat lagi, aku dan keluarganya. Keluarganya tentu saja keluargaku juga, kami sudah menikah. Baiklah, kalian tau aku berbohong.

"Sudah berapa lama?" tanyanya, pandangannya lurus ke depan, aku tak dapat membacanya, kosong namun tajam

"15 bulan" jawabku "Hari ini kami anniv" ada nada bangga terselip di sana

"15 bulan? Kupikir hari jadi diperingati setahun sekali"

Aku tertawa kecil "Kurasa juga begitu, tapi aku senang mengingat tanggal jadi kami setiap bulannya" terangku, kemudian aku menatapnya "Kenapa belum punya pacar?"

Ia terdiam sejenak, tak berniat menjawabnya. "Punya" jawabnya singkat

"Siapa?" tanyaku, masih menatapnya dengan mata yang mendelik

"Perempuan"

"Yah, aku tau" aku mendengus kesal, akhirnya menyerah dan merebahkan diri di rumput

"Kau tau itu kotor kan?"

"Apa? Rumput ini?"

"Ya, rumput itu akan meninggalkan noda di bajumu, dan.."

"Bodoh" potongku "Yang kotor itu bukan rumputnya"

"Lantas?"

"Debu" jawabku, sedikit tersenyum picik

Ia ikut merebahkan tubuhnya, matanya tak pernah sedikit pun terarah padaku. Masih dengan ketajaman yang sama, matanya kini terarah pada langit.

"Fa itu, kenapa dia begitu tak beruntung berpacaran denganmu?"

"Aku tidak tau" jawabku datar "Dia memang begitu tak beruntung"

"Kenapa kau tidak menyuruhnya memilih wanita lain?"

"Aku tidak sebodoh itu mengusir keberuntunganku pergi" ujarku "Tapi, terkadang aku merasa dia cukup beruntung memiliki aku"

"Kepercayaan diri yang bagus, walaupun itu sebuah dusta" katanya dingin

"Dia terkadang begitu menyebalkan, cuek dan pemalas" keluhku

"Tidakkah kau berkaca?"

"Seharusnya dia memberi contoh yang baik padaku, seharusnya dia perhatian dan rajin"

"Bukankah lebih baik mengoreksi dirimu dulu?" ujarnya, dengan nada yang sama, namun terdengar lebih bijak. Tak terkesan menggurui, namun cukup berharga untuk diresapi

"Aku tau, tapi aku ingin dia lebih dulu"

"Lihat, betapa tak beruntungnya dia"

Aku hanya tersenyum, menyadari keegoisanku. "Mungkin ia melakukan dosa besar di masa lalunya, sehingga Tuhan menghukumnya dengan memasangkannya denganku"

"Jangan berprasangka, mungkin kaulah yang melakukan kebaikan besar di masa lalumu, sehingga Tuhan menghadiahimu dengan memasangkanmu dengannya"

"Mungkin," jawabku menggantung

"Pacarku juga amat tidak beruntung" ujarnya

"Perempuan itu?"

"Cintanya begitu besar, sehingga aku tak bisa membalasnya"

"Kau hanya tak ingin membalasnya, jika kau ingin, tentu saja kau bisa" kataku, seperti menceramahi diriku sendiri. Rasanya, cintaku pada pacarku belum lah cukup, aku lebih sering membuatnya susah daripada membahagiakannya.

"Ya, aku memang tidak ingin. Tatapannya padaku, berharap aku menatapnya balik, ia seperti mengasihaniku. Dia pikir aku begitu kesepian, ia tidak sepenuhnya mencintaiku, separuhnya hanya rasa iba"

"Campakkan dia, perlahan dia akan menjauh" saranku

"Tidak, aku selalu mengabaikannya, namun aku akhirnya luluh. Tak ada wanita yang tahan kuabaikan selama 2 jam selain dia. Walaupun aku menjawab sekedarnya, ia selalu menanyaiku macam-macam, tak sadar ia sedang bicara pada mayat hidup"

"Apa kau kemudian menatapnya?"

"Ya aku menatapnya, dia satu-satunya orang yang ingin kutatap di sela hembus nafasku. Dan setiap kali aku menatapnya, ia nampak begitu cerah, seperti baru saja memenangkan pertandingan, mencairkan es di mataku"

"Ia pastinya gadis yang begitu manis" komentarku. Suara angin berdesis mengalir antara kami, pepohonan mengikuti melodinya yang sumbang, langit masih saja biru dengan awan yang beriak mencari kedamaian.

"Apakah dia anak ke empat?" tanyanya padaku

"Siapa?"

"Kau pikir siapa?"

Aku terkekeh "Kau pikir karena Fa adalah nada ke empat, maka ia anak ke empat? Apakah kau pikir kaka pertamanya bernama Do, lalu Re, kemudian Mi?"

"Ada saja orang tua yang berpikir konyol seperti itu"

"Orang tuanya tidak, ia anak ketiga dan jangan bertanya kenapa ia tidak diberi nama Mi"

"Apakah dia pendiam?"

"Tidak, dia hanya mengungkapkan apa yang perlu diungkapkan. Ia tak membicarakan apa yang ia pikirkan, seolah ia menyuruhku menebaknya sendiri"

"Dia sepertiku"

"Lelaki memang seperti itu ya?"

"Tidak semua, tapi kebanyakan"

"Dia selalu bilang, dia bukan orang yang romantis"

"Lelaki yang mengaku romantis terlalu sesumbar" ujarnya, aku sedikit setuju dengan pointnya

"Tapi dia kadang melakukan hal manis yang membuatku tersenyum sepanjang malam, sebelum ia bertingkah menyebalkan seperti biasanya"

"Seperti?"

"Dia pergi ke suatu tempat, hanya untukku" Aku mengingatnya, ketika sepulang sekolah aku membaca komik di tempat rental biasanya. Baru semenit aku memberitahunya aku berada di rental itu, tiba-tiba ia datang ke sana, menyenggol tanganku lalu tersenyum. Aku tak menyuruhnya datang, tapi aku sangat senang ia ada di dekatku, Tuhan tau keinginan hambaNya bahkan saat aku tak menyebutkannya. 

Saat dia membuka handphonenya, one unread message. Pesan dariku, yang memberitahunya aku di rental ini. Kemudian aku bertanya, kenapa dia disini. Ia hanya mengangkat bahu, kemudian kembali tersenyum. Aku mensyukuri kebetulan yang manis itu, dia memang ingin ke rental ini tanpa mengetahui aku juga ada di sini. Terlalu sehati mungkin, berkeinginan yang sama.

Lalu, ia duduk di sebelahku. Sesekali aku menutup komik yang aku baca lalu memandanginya sambil tersipu. Saat pulang, aku menyadari satu hal, motornya terparkir tepat di belakangku

"Kamu kesini karena liat motor aku ya?" tanyaku. Kemudian ia mengangguk.

Dia kesini bukan untuk membaca komik, namun karena aku ada di sini, karena dia melihat motorku. Yah, tentu dia juga ingin membaca komik, aku hanya mengambil kesimpulan yang baik untuk menyenangkan hatiku. Dia kesini karena aku.

"Melamun?" tegurnya. Lelaki yang sedari tadi berbaring di sampingku, aku menoleh sedikit. Mendapatinya menatap langit, namun kini pandangannya lebih teduh.

"Aku mencintai pacarku" ujarku, tanpa dibuat-buat.

"15 bulan sudah cukup untuk menumbuhkan cinta, tapi juga cukup untuk menumbuhkan bosan"

"Aku kadang bosan, mungkin dia juga"

"Kenapa?"

"Pesan yang tak dibalas, semacam itu"

"Bosan menunggu?"

"Ya, kadang aku takut tak lagi dicintai" aku mengakuinya

"Kau begitu lemah" ujarnya "Kau tidak akan mati seandainya dia tak mencintaimu lagi"

"Tapi rasanya akan sangat sakit"

"Tergantung," katanya pelan "Jika kau masih mencintainya, mungkin akan sakit. Namun, bila sama-sama tak ada rasa, tak akan ada yang tersakiti, memang sebaiknya disudahi"

"Ya" ujarku, lebih pelan darinya

"Dia terlalu baik untukmu, akuilah itu"

"Tidak" ucapku tegas "Aku memang tidak bisa memberinya apa pun, tapi kurasa dengan mencintainya sepenuh hati, sudah cukup mengimbanginya"

"Aku penasaran, kenapa dia menginginkanmu untuk jadi pacarnya"

"Seburuk itukah aku?"

"Ya kurasa, aku belum menemukan nilai lebihmu, selain narsisme yang tinggi"

"Mungkin aku membuatnya nyaman, entahlah"

Dia menghela nafas "Lalu, bagaimana denganku?" pertanyaan itu tak ditujukan padaku, lebih pada dirinya sendiri. Seperti bercakap dengan cermin "Aku dengan sejuta kekuranganku, dan aku juga tak membuatnya nyaman, tak ada seorang pun yang menemukan nilai lebihku"

"Tanyakan pada ibumu" usulku

"Andai aku bisa"

"Maaf"

"Apa yang kau lakukan jika Fa berselingkuh?" tanyanya, seperti mengujiku

"Aku mungkin marah, tapi aku pasti sedih. Aku tidak terlalu suka marah, terkesan emosional. Menangis rasanya lebih terhormat, wanita diciptakan dengan kapasitas air mata yang lebih banyak" jawabku

"Apa kau akan memutuskannya?"

"Tidak"

"Kau berkata tidak karena ia sedang tidak berselingkuh sekarang, bagaimana jika benar terjadi?"

"Tidak" ulangku

"Kau bersedia diduakan?"

"Aku akan menyuruhnya memilih, dia yang berhak melanjutkan atau menyudahi"

"Kau juga berhak" ujarnya, agak membelaku

"Aku tak mau menggunakan hakku, aku tak ingin menyesal"

"Apa kau menyesal jika memutuskan orang yang bermain dengan wanita lain di belakangmu?"

"Dia pasti punya alasan"

"Alasannya, dia tak mencintaimu lagi"

"Maka dia akan memutuskanku, dan dia akan menyesal seumur hidupnya"

"Sudah kubilang, narsisme yang begitu tinggi" ujar lelaki itu, dia menghela nafas panjang

"Apa kau letih?"

"Ya" jawabnya, tanpa ada niatan untuk melanjutkan

"Aku punya beberapa usul untuk mengakhiri hidup, jika kau bersedia mendengarnya"

"Bagaimana caraku membahagiakan orang yang menyayangiku?" tanyanya, kali ini ditujukan padaku

"Lakukan hal kecil yang tidak biasanya kau lakukan" jawabku "Perempuan sangat menghargai hal itu"

"Hal kecil? Mengapa bukan hal besar?"

"Hal besar, tak dapat kau lakukan berulang kali, mungkin hanya di ulang tahunnya, atau di saat hari jadi. Tapi hal kecil, dapat kau lakukan kapan saja, bukan dalam rangka suatu hal. Lakukan karena kau ingin melakukannya" ujarku

"Apakah ia akan mengingatnya?"

"Ya, seumur hidupnya"

"Bagaimana aku melakukannya?"

"Pikirkan saja hal paling mudah yang dapat kau lakukan, tersenyum misalnya. Kau jarang sekali tersenyum"

"Tidak pernah"

"Maka, tersenyumlah untuknya"

"Apa yang Fa lakukan padamu?"

Aku mengulum senyum, kembali tergambar bayangannya di awan yang tengah berarak ke Barat "Dia mengelus rambutku, hanya dalam hitungan detik, sedetik mungkin. Tapi, wajahku bersemu"

"Lalu?"

"Dia bersandar di bahuku, manja. Tapi aku menyukainya, tak dapat menahan senyum, dan juga debaran"

"Takada kah hal yang lebih simpel?"

"Pandangan yang bertemu, ia menatapku saat aku menatapnya dari kejauhan"

Ia terdiam

"Pacarmu sudah sangat senang ketika kau menatapnya, tataplah dia lebih sering" ujarku, menawarkan hal yang lebih mudah untuk ia lakukan

"Lalu tersenyum?"

"Tepat"

"Apakah Fa tersenyum padamu, bahkan ketika tak ada hal yang lucu, atau bahkan ketika kau bertingkah menyebalkan" nadanya terdengar datar, namun ada setitik ritme yang tak biasa, seperti merasa tak mungkin

"Ya, dia tersenyum dengan hangat, selalu seperti itu"

"Dia berbohong"

"Apanya?"

"Kurasa dia cukup romantis, dia hanya menutupinya"

"Dibandingkan dengan kau, tentu saja dia sangat romantis"

"Jangan dibandingkan, lelaki tak suka dibandingkan"

"Setidaknya, aku membuat perbandingan lebih baik untuk pacarku"

"Maksudku, aku tidak suka dibandingkan dengan pacarmu"

"Oh"

Kemudian hening. Udara yang hambar, langit yang menjadi gelap, kuharap aku bisa melihat bintang jatuh. Tapi tak ada bintang jatuh yang bisa mengabulkan agar bintang yang lainnya turut jatuh. Tuhan mendengarnya, aku tak perlu bintang. Lelaki di sebelahku bangun posisinya, ia tak membersihkan punggungnya yang kotor. Ia hanya menatap lurus ke depan, seperti saat pertama aku melihatnya dan menghampirinya.

 "Sebaiknya kau pulang" ujarnya padaku

Aku malas bangun dari rebahanku, rumput yang lembut, meski agak gatal. Mereka telah bersusah payah menahan berat tubuhku. "Jika suatu hari kau melihatku dengan lelaki dengan rambut keriting, itu adalah Fa. Kau harus mempelajari caranya tersenyum" Kemudian aku beranjak bangun

"Keriting?"

"Ya, usahakan mengingat wajahku, karena aku belum tentu akan mengingatmu"

"Aku tidak akan ingat, aku bahkan tak pernah benar-benar melihat wajahmu"

Lalu aku berjingkat dan berjongkok tepat di hadapannya, memastikan ia menatapku. Ia tak berekspresi, tapi ia menatapku. Sorot mata yang tajam, kemudian aku tertawa. Tak tau apa sebabnya, aku hanya ingin tertawa. Saat ia memalingkan wajahnya, aku tau dia tersenyum.

Aku bangkit berdiri

"Senyum seperti itu, bukan hal yang sulit kan?" ucapku riang, ia tak menjawabnya. "Ingat wajahku ya!"

"Kurasa," Lagi-lagi ucapannya menggantung "dengan memilikimu, Fa tidaklah terlalu tak beruntung" lanjutnya

Selesai

Comments